istriku doyan jilat telan sperma peju mani orang lain

Namaku Michael umur 24 tahun dengan seorang istri bernama Jessica
berumur 22 tahun, kami menikah 11 September 2004 lalu, belum
dikaruniai anak, pernikahan kami itu masi terus saja menjadi bahan
pembicaraan kami, walau setahun telah berlalu, kami selalu tertawa,
dan tidak jarang kejadian itu membuat birahi kami bangkit, apalagi
foto tersebut sekarang sudah beredar luas di internet, entah siapa
yang iseng untuk menyebarluaskannya. Tapi untungnya lagi orang tua
kami dapat memaklumi kejadian itu, saya tidak tahu apakah kalau ayah
saya masih hidup bisa memakluminya atau tidak.

Tapi kejadian tersebut sudah berlalu, walaupun kalau diingat sangat
menggelikan, bahkan pada saat menulis cerita ini kembali pun terasa
sangat menggelikan, padahal sudah banyak yang mengingatkan kami, "eh
itunya turun tuh, naikin" teriak salah seorang teman, "busyet deh,
bagus amat tuh, sabar atuh malam pengantinnya" timpal yang lain.
Kami hanya mengenyeritkan dahi tidak mengerti, sampai beberapa
jepretan kamera, dan saat teman kami menunjuk ke arah dada sambil
menggunakan bahasa tubuhnya untuk mengangkat gaun, barulah kami
berdua sadar, tapi itu sudah terlambat, semua pengunjung sudah
melihat dan foto pun sudah terekam, yang mengambil gambar kami pun
sudah pulang tanpa bisa dicegah, sampai kami harus mendapatkan foto
kami sendiri atas hasil karya orang tersebut melalui internet.

Ohya, kami belum dikaruniai anak bukan karena kami menunda memiliki
anak, tetapi faktor kami berdua, rahim istriku ada sedikit gangguan
yang menyebabkannya sulit untuk menerima sperma, kecuali sperma
tersebut memang sangat kuat, dan sayangnya spermaku normal normal
saja, bukan sperma super, sehingga kami belum bisa memiliki
keturunan, kami pernah mencoba berobat ke Jerman, tetapi tidak
membuahkan hasil, disamping sekarang kami juga agak sibuk menangani
usaha kami di Indonesia, jadi kami tidak mencoba lagi berobat, kami
hanya bercinta normal, dan berharap satu dari sekian milyar spermaku
ada yang menjadi super sperma.

Dan seperti yang saya katakan, kejadian tersebut, selalu membuat
gairah kami bangkit, maka pada tanggal 9 September 2005 kemarin kami
berniat merayakan 1st anniversary kami dengan menginap selama
seminggu di hotel mulia, tempat kami melangsungkan pernikahan kami
yang begitu mewah dan "tak terlupakan".

"Hallo My sexy... hmm... gimana bagus ga?"tanyaku, setelah kuhias
seluruh ruangan dengan lilin, layaknya candle light dinner. Saya
sudah menyiapkan ini dari pagi hari, karena memang saya meminta
early check in, dan lilin baru kunyalakan setengah jam sebelum
istriku masuk, kusuruh dia menunggu di lobby dulu. "Waw.... I love
it... ... I mm ... I just love it so...much thanks"kata istriku
mengangguminya dengan segenap perasaan. Aku juga telah meminta ijin
untuk memesan makanan, karena biasanya makanan berbau menyengat agak
dilarang masuk ke hotel, tapi mungkin karena fasilitas suite kami
lebih dilonggarkan. Kupesan Tony Roma's baby back favoriteku dan
blue ridge kesukaannya. Kami bersantap di meja makan suite kamar
kami.

Sambil kami melihat kembali dvd pernikahan kami, yang tentu saja
bagian "itu" sudah diedit, begitu senang kami melakukannya. Kami
merasa hal tersebut mengingatkan kami kepada memory memory ketika
kami sangat kurang tidur, harus melakukan ini dan itu, tapi kami
sungguh puas, sungguh bahagia, walaupun istriku terlihat sangat
kelelahan saat itu. Kemudian kami mengingat kembali peristiwa itu
lagi, dan membuat kami sangat turn on.

Setelah meniup lilin mati, kami membersihkan diri, gosok gigi dan
lainnya, kami mulai bercinta, aku merasa hari itu aku sangat kuat
sekali, sekitar 2 jam kami bercinta termasuk foreplaynya, istriku
sangat terpuaskan, "Jess, ah gimana kalau kita ekspos tubuh putih
mulus kamu ini, pasti banyak yang senang, membuat semua orang
senang, kamu cantik sekali, cantik banget sih..." kataku. "Ah... i
iya.. enak banget... uuh.. di ekspos gimana? Haha... kamu senang
ya?" tanyanya. "Iya Jess... buat anniversary kita..."
kataku. "Terserah kamu deh, hahaha... kamu emang seneng ya kaya
gitu... emang ada ide?"tanyanya lagi, "Ide? Kamu serius? Ga papa
nih?" tanyaku menyakinkan diriku sendiri, "asal kamu seneng mike,
kamu seneng ga? Kamu suka ga?", "suka banget... suka bangett... ahh
aku ada ide... ahh Jess aku uda mau keluar..."erangku. "Iya Mike aku
juga... ahh... teruss..." teriaknya. "Kita panggil room service ya,
buat siapin makanan Jess" kataku, "tapi kitakan uda makan"
tanyanya, "bukan kita yang makan Jess... ahhh aku mau keluar...
ahhhh...." teriakku. "Ahh..... enak bangettttt Mike... hah..."
erangnya.

Kupanggil sandwich dari room service, dan sekitar setengah jam-an
suara bell pun berbunyi, "Room Service" kata orang luar itu.
Kubukakan pintu, aku sudah berpakaian lengkap, "Sandwich
pak...", "iya benar, bawa masuk deh" kataku. Kemudian dia masuk,
menyiapkan di meja makan, "Mas, jangan taruh di meja makan deh, bawa
ke dalam kamar aja." kataku. "Oh baik pak." Kemudian dia menggeser
pintu kamar tidur, "ah aduh.. ah sorry pak" katanya kemudian
langsung membalikan badannya. "Nama kamu siapa?"tanyaku, "A..Adi
pak." jawabnya cepat. Adi ini memiliki tinggi yang kurang lebih sama
sepertiku, mungkin dia lebih tinggi, aku 170 dan mungkin dia ada 175
cm, kulitnya sawo matang kehitam hitaman, sedangkan kulitku putih
tetapi tidak seputih istriku yang memiliki tinggi 162 cm dengan
ukuran dada 34c mendekati d, tetapi cup c terasa sangat pas untuk
dadanya, c agak sedikit besar. Tubuhnya sangat proposional, dengan
perutnya yang rata.

"Adi, kamu masuk aja, duduk disana" kataku sambil menunjuk sofa di
kamar tersebut. "Hm.. ta... tapi"katanya terbata bata, melihat
seorang perempuan berusia muda, putih cantik, sedang tidur tanpa
busana, walau tertutup selimut. Kemudian aku maju, masuk ke dalam
kamar, duduk di pinggiran kasur, menarik tubuh istriku yang sangat
cantik dan menawan itu, beserta selimutnya, "Jess, jangan pura pura
tidur donk, katanya mau liatin orang makan. Nih orangnya uda dateng
nih" kataku yang langsung mempermalukan istriku. "Ah..
hm.he."istriku terlihat salah tingkah. "Ayo donk, ngomong langsung
ke masnya, namanya Adi tuh" kupojokkan lagi Jessica.

"Eh..hmmh.. mm...mas.. A..Adi, saya mau lihat cara mas makan
sandwich donk." kata Jess. "Nah kan denger sendiri kan mas? Ayo di
makan" desakku. "I...iya pak" lanjutnya. Dan tanpa ragu ragu lagi
dia duduk di kursi terdekat, bukan di sofa tempat kutunjuk. "Oh ya,
sebelumnya, kuperkenalkan nama istriku Jessica, dan saya Michael"
kataku memperkenalkan diri.

Kutarik selimut istriku sampai terbuka semua, dan kutarik dia bangun
kemudian aku duduk di kursi yang bentuknya sama, dan istriku duduk
di tangan kursi tersebut, posisi kursi kuletakkan sedemikian rupa
sehingga aku sangat yakin pelayan ini mampu melihat seluruh tubuh
istriku. Kutarik paha kiri istriku sehingga pemandangan terindah
vaginanya terpampang jelas ke arah room service tersebut.

Ia terlihat sangat tidak tenang, gelisah, bingung sambil tetap
memakan sandwichnya dan menelan ludah, seakan tak percaya, sedang
mimpi apa dia.

Istriku merangkul bahuku, jemari kirinya menekan bahu kiriku,
tampaknya ia juga gelisah, canggung, malu dan sebagainya, sedangkan
rudalku sudah mulai naik lagi, lalu keheningan di pecahkan oleh
dering telephone, aku mengangkatnya. "Hallo, ..hm ya ... ini
benar .. oh sudah pak, sudah datang, ohya sebelumnya maaf, memang
dia belum saya suruh balik karena saya maunya setelah selesai makan
langsung dibawa piringnya, jadi memang masnya saya suruh tunggu
disini, ga apa ya... maklumkan ya.. oh ya,,oke.. makasih ya." "KLik"
kututup telephonenya, "hehe.. ditelfon sama room servicenya" kataku
menjelaskan, Cuma istriku yang melihat kearahku, sedangkan mas Adi
tampaknya sudah tak perduli lagi siapa yang menelephone, ia pandangi
tubuh istriku tak ada habis habisnya, seperti serigala lapar. Aku
senang melihatnya seperti itu, biasanya saja kalau istriku
berbusana, setiap pria normal baik single, pacaran maupun yang sudah
beristri pasti meliriknya lama lama, menelan ludah bahkan sampai
kepalanya ikut berputar, apalagi ini. Sampai kayak orang mati.

Masih teringat olehku beberapa waktu yang lalu ketika aku bersama
istriku ini pergi ke sebuah plaza elite, ia memakai tank top yang
agak sexy dengan rok yang agak mini, memperlihatkan jenjang kakinya
yang putih mulus, membuat yang melihatnya ingin jongkok ke bawah dan
melihat isi dalam roknya. Sedangkan bagian atasnya membuat orang
yang melihatnya, ingin mendongakkan kepalanya lebih lagi agar bisa
melihat bulatan indah istriku. Disamping pria – pria biasa yang
lebih kalem hanya menatap lama lama wajah istriku, untuk disimpan
dalam memori otaknya, agar bisa berfantasi meniduri istriku.

Sedangkan room service yang satu ini sangatlah beruntung, hanya
melihat seperti itu terasa spermanya ingin muncrat keluar. Di
otaknya sedang bekerja berbagai fantasi yang mungkin dilakukan untuk
meniduri istriku ini.

Tampaknya ia sudah selesai makan, walau agak berantakan. "Mas, bisa
tolong foto in kita gak?" tanyaku sambil menyerahkan kamera
digitalku. "... o.. oh ..ya..ya..bisa bisa" katanya terbata bata
diakhiri dengan sok yakin.

Aku pangku istriku, "tzing..." suara jepretan kamera digital.
Beberapa fotopun diambil, beberapa terasa sangat vulgar, karena aku
menekan kedua payudara istriku yang putih, menarik kedua sisi bibir
vagina istriku sehingga melebar dan memposekan dirinya memeras
payudara dan membuka vaginanya. Sedangkan sang fotografer tampaknya
sangat frustasi.

"Oke deh segitu dulu, hm... ohya sebagai kenang kenangan, mas foto
sama istriku gih, aku mau ambil beberapa" kataku menawarkan. "Ok Ok
sip pak"jawabnya langsung tanpa basa basi lagi. Awalnya ia berpose
disebelah istriku dengan malu malu senyum. Kemudian saat kuarahkan
untuk lebih panas, memegang kedua buah dada istriku, dengan sangat
bernafsu ia meremasnya kuat kuat sehingga saat di ambil gambarnya
terlihat wajah istriku yang meringgis kesakitan dan wajah si Adi
yang tersenyum sangat puas. "Aw, jangan kenceng kenceng donk
pegangnya mas" kata istriku sedikit dongkol.

Setelah sesi pemotretan selesai, istriku memberinya tip seratus ribu
rupiah, dan menyuruhnya agar setiap hari jam 09.00 pagi agar
mengantar makanan, tentu saja dengan menelephone ke kamar kami
terlebih dahulu, sehingga kami tahu apa yang ingin kami pesan.

Maka untuk tujuh hari kedepan telah diputuskan mas Adilah yang
menjadi room service special kami. Kami juga memikirkan ide
bagaimana selanjutnya menggoda dengan tubuh istriku ini.

*********

Jam menunjukan pukul 8 pagi, pengalaman tadi malam benar – benar
berkesan sekali bagi kami, "TRING..... TRING...." "ya, hallo. Oh
ya.. hmm untuk menu kali ini kami mau pesan chicken cordon bleu 2
dan satu menu lagi terserah mas Adi mau pesan apa, nanti kita makan
bareng saja."
"Loh, terserah saya mau pesen apa nih pak?"
"Hah? Iya terserah mau pesan apa, pesan saja yang mas Adi sudah
pengen coba dari dulu, gak usa malu malu, apa aja. Asal nanti bisa
lebih bagus dari kemarin lagi, hehehe... ya, oke..."
"Waduh, makasih banget ya pak... sebentar lagi saya kesana"katanya
mengakhiri telephone

Jessica, istriku sedang berendam di Jacuzzi kamar mandi, ia bersih
bersih dan dandan secantik cantiknya, karena rencananya kami ingin
shopping di plaza Senayan, yang tidak jauh dari sini. Begitu ia
keluar dari kamar tidur, aku yang berada di ruang tamu kamar suite
ini benar benar tercengang, tiba tiba ada perasaan tidak rela
membagi istriku yang cantik ini, ia begitu menawan, begitu menggoda,
benar benar cantik sekali.

Belum sempat aku balik ke pikiran nyataku, bel kamar pun berbunyi,
aku tersadar, lalu aku biarkan room service itu menunggu, "Jess,
kamu... cantik banget... gila.. Wow, really." Aku tersenyum, aku
sungguh sungguh mengucapkannya. "Thank you ya" ia membalas senyumku,
manis sekali. Bel kamar kembali berbunyi, "Room Service.. room
service pak" "Tok, tok, tok". Aku menjadi sedikit kesal dengan
gangguan tersebut, "Iya iya sabar" kataku, aku menjadi menyesal
menyuruhnya datang, memesankan makanan untuknya, dan berpesan
kepadanya agar lebih hot kepada istriku. Aku merasa seperti orang
bodoh saja. Kesal sekali.

Aku bukakan pintu, ia pun masuk, "Selamat pagi pak." senyumnya
ramah, tetapi ada maunya. "Iya, masuk." kataku sedikit jengkel, aku
yakin ia menyadarinya. Terlihat dari wajahnya yang tadinya
tersenyum, menjadi agak kecut sedikit. Tapi ia terus masuk, dan
bertemu dengan istriku.

Tidak salah memang mataku, ia juga sangat tertegun melihat
Jessica. "Wow, ibu cantik sekali." katanya. "Ah jangan panggil ibu
donk, kesannya tua banget deh gue! Gua baru umur 23 kali" istriku
menjawab dengan sewot, tapi tetap tersenyum, "tapi makasih ya
pujiannya" lanjutnya lagi.

"Aih Chicken cordon bleu ya? Wah Mike, lu emang tau apa yang gua
mau." kata istriku. "Iya donk, hehehe... ini abang yang lu mau juga
gua bawa sekalian hahaha" sahutku yang langsung kusesali. Memang sih
di hati penuh kesal dan sesal, tapi tiba – tiba jadi bergairah lagi,
jadi ingin melihat istriku yang lagi cantik cantik ini bersetubuh.

Aku lihat Adi memesan tenderloin steak, dan segelas wine. "Sialan
juga nih orang, pinter juga mesennya" umpatku dalam hati. Setelah
selesai makan, istriku hendak membersihkan diri, "tunggu Jess,
ngapain coba cuci mulut, ntar juga cuci lagi." Kata si Adi, yang
membuat kami berdua sedikit terkejut, karena ia sudah mulai berani,
mungkin dari kemarin sudah dipikirkan banget. Tapi kata kata itu
membuatku turn on juga, begitu pula istriku, yang langsung berbalik
dan duduk kembali, "emangnya kotor kenapa mas?" tanyanya.

"Hm karena kalian nginap disini masi ada sekitar 6 hari lagi, gimana
kalau hari ini kita main oral aja?" katanya langsung. Aku terdiam,
istriku melihat ke arahku, senyum senyum memelas, akhirnya kuiyakan
saja. "Oke, tapi tunggu aku mau ambil handy cam dulu" kataku.

Kunyalakan Handycamku, kuarahkan ke makanan yang baru saja kami
lahap, bon makanannya, wine yang dipesan Adi, yang baru sedikit
sekali diminumnya. Kemudian kuarahkan ke wajah istriku yang cantik,
ke pakaiannya yang saat itu memakai rok pendek dan baju T-shirt
warna abu abu yang ada resleting ¼ dari bajunya. Dadanya terlihat
membusung, kemudian pusarnya yang sedikit terlihat. Lalu kuarahkan
perlahan ke wajah sang room service yang minta isrtiku melakukan
service blow job kepadanya. Yah hanya sekilas, karena aku tidak
beminat terhadap pria.

Kemudian istriku berlutut dihadapannya, membuka resleting celananya,
ia mengeluarkan penis pria tersebut, kemudian mengulumnya, ia
katakan terasa asin dan masih berasa rasa chicken cordon bleu di
lidahnya. Istriku mengeluarkan segala tehnik mengoralnya, menservice
baik baik, pria room service ini. Kejadian itu terus kushoot, batang
penisku pun naik, dan mereka melihatnya sambil tertawa, mereka dapat
melihatnya karena aku hanya memakai kimono tanpa daleman.

"Oh.. iya..Jess..ah lebih dalem lagi" teriak si Adi. Tampaknya Adi
ingin melakukan deep throat terhadap isrtiku, benar dugaanku. Untung
istriku mampu melakukan hal itu, walau aku sendiri belum pernah
merasakannya. Liur liur saliva yang biasa terjadi kalau melakukan
deep throat pun terjadi terhadap Jessica. Liurnya menjadi sangat
banyak ketika penis Adi keluar dari mulutnya. Kemudian dimasukkan
lagi dalam dalam, terus berulang. Baju istriku basah terkena liurnya
sendiri. Sementara rambutnya sedikit acak acakkan karena ditekan
oleh Adi. "Ah... aku dah mau keluar... Oi Michael, Mike, ato siapa
kek nama luh, gue da mau keluar di mulut istri luh... enak
banget..." teriaknya, aku jadi tertegun, aku benar benar sangat
nafsu sekali.

CROOOOTTTT.... sperma Adi muncrat di mulut istriku, di wajahnya, dan
di bibirnya. "Ahh... enak banget..." erangnya. Ia ngos ngosan,
tampak capai sekali. Keringat bercucuran, ia buka bajunya.
Menenangkan pikirannya.

Aku sudah tidak tahan, istriku terlihat mempermaikan spermanya
dimulutnya dihadapan kamera, kemudian menelannya. "Enak..." katanya
sambil tersenyum. Dan melirik ke Adi yang tersenyum kepadanya. "Di,
pegang nih handy cam" kataku ke Adi. Kubuka celana dalam istriku,
kuperlihatkan vaginanya ke arah handy cam yang di pegang Adi, "gila
nih di, basah banget, gara gara luh. Thanks banget ya, sekarang
giliran gua" kataku.

Kemudian aku pun langsung menyetubuhi istriku, sedangkan Adi
merekam, ia fokuskan ke istriku, wajah istriku yang masih belepotan
ludah dan sperma, kemudian ia naikkan kaos istriku, dibantu olehku,
sehingga dadanya terekspos jelas. Aku terus mengenjot tubuh Jessica
istriku. Sedangkan Adi meremas remas dada istriku sambil tangan yang
satu lagi tetap merekam. Terus ke arah vagina istriku.

Aku naikkan tubuh istriku, kubuka semua kaos istriku, branya juga
kulepas semuanya, kemudian kubuka jendela kamarku, kutempelkan dada
istriku ke jendela, kugenjot dari belakang, sedangkan Adi merekam
dari sisi kiri, merekam dada istriku yang tertekan ke jendela, Adi
juga merekam pemandangan luar, yang tidak begitu ada pemandangan
karena Cuma ada langit langit biru dan gedung gedung bertingkat
saja.
"Terus, Mike... enak banget.. hoh!! Ah!!!! Eahhhhh...... Ahhhh"
erang istriku, tampaknya ia sudah orgasme. Kulanjutkan memompanya,
terus dan terus, sampai aku juga berejakulasi di dalam rahimnya.

Tampaknya si Adi cukup bersabar, ia tidak langsung menyetubuhi
istriku hari itu, ia hanya meminta celana dalam istriku itu. Dan
meminta istriku pergi shopping tanpa menggunakan celana dalam. Dan
kami pun setuju dengan rencananya tersebut.

Di plaza senayan kami membeli cukup banyak pakaian, istriku juga
membelikan beberapa pakaian untuk Adi, tapi tentu saja Adi
mengambilnya setelah ganti shift, dan kami memberikannya saat di
parkiran. Karena mungkin manajemen hotel tidak mengijinkan pemberian
tip berupa barang, mungkin takut disangka mencuri.

*****

Keesokan harinya, setelah memesan nasi goreng special ala Mulia,
lagi lagi si Adi punya ide gila, ia menyuruh Jessica untuk tidak
menghabiskan dulu nasi gorengnya. Dan kali ini, setelah melakukan
deep throat dengan teknik baru, yaitu menaruh piring nasi goreng Adi
yang sudah habis, kemudian di atas piring kosong tersebut ditaruh
celana dalam bekas istriku yang kemarin, dan kemudian nasi goreng
sisa istriku ditumpuk ke atas piring Adi yang sekarang berisi cd
kemarin yang dimintanya.

Tentu saja saliva orang yang melakukan deep throat itu berlebihan
sekali dan jatuh diatas nasi goreng itu, dan pada saat mengeluarkan,
Adi menyemprotkan seluruh spermanya ke nasi goreng tersebut. "Wuih
enak banget nih...." katanya. Aku masi bingung apa maksud semua ini,
walau aku menerka nerka, akankah ia menyuruh istriku memakannya, dan
apakah istriku mau melakukannya?

Terjawab sudah, ia memang menyuruh istriku memakannya, tapi yang
tidak kuduga istriku tanpa meras jijik atau disuruh dua kali
langsung melahapnya, aku merasa aneh, melihat istriku yang cantik
kok mau maunya melakukan hal tersebut, "eh kel, hari ini jangan
setubuhi istri kamu ya, kamu onani aja keluarin ke nasi goreng itu
juga, cepetan sebelum nasi gorengnya abis. Jangan oral juga ya"
katanya, "sini aku rekamin" sambungnya.

Anehnya kuturti juga, aku onani semaksimal mungkin agar cepat
keluar, dan akhirnya keluar juga, berbarengan dengan sendok terakhir
istriku, dan spermaku hanya terkena sedikit saja nasi goreng
tersebut. "Oke, karena uda abis, yang di piring ga usa diabisin
spermanya, aku lap aja pakai cdmu" kemudian setelah dia
melapnya. "Hm.. sekarang kemana? Jangan lupa pakai cd ya, pakai yang
ini aja, ganti cd kamu yang sekarang!!!" perintahnya.

"Tu..tunggu, tunggu..." seolah mendapat kesadaranku kembali, "Adi,
ini sudah berlebihan, saya itu panggil kamu, Cuma buat kita have fun
doank, bukannya kasi kamu wewenang buat perintah kita. Lagian kamu
harusnya bersyukur, tapi sekarang kok malah jadi begini sih?!"
protesku, karena sudah agak kesal juga. "Oh.. hm.. maaf pak, saya
jadi keterusan sama fantasi saya...maaf banget ya.. pak. Saya pikir
ini Cuma variasi aja, hehe.. maaf pak sekali lagi, tapi jangan
dilaporin ya ke atasan saya. Besok besok terserah bapak deh maunya
gimana. Maaf pak" katanya dengan perasaan yang tidak enak. "Ya sudah
ga apa, hmph... besok nanti liat gimana lah, seperti biasa deh
telphone dulu!" kataku ketus. "Oh iya pak, baik" katanya lagi sambil
senyum senyum. "Udalah Mike, gitu aja kok, ya uda nih buat kamu"
kata Jessica sambil menyerahkan uang seratus ribu. "Ma... makasih
bu" katanya, "uda dibilang jangan panggil ibu, gimana sih. Panggil
nama aja lah, lebih enak" kata istriku. "Oh iya, lupa, maaf bb..
maaf non, eh Jess.. makasih ya" katanya kembali. Sulit memperkirakan
umur Adi, mungkin sekitar 28 sampai 30 an. Tetapi tubuhnya cukup
berisi juga. Kemudian ia pergi meninggalkan kamar kami.

Akhirnya aku dan istriku pergi ke plaza senayan lagi untuk nonton
film. Dan tentu saja Jessica, istriku, tidak menggunakan celana
dalam kotor itu.

*****

Tring.... Tring.... Tring...
"Ha.. halo..."
"Room Service...."
"Oh.. mmh... Adi.. waduh... jam berapa ini..?" aku mengucek ngucek
mataku, aku masih mengantuk sekali, kulihat jam menunjukan pukul
04.30 pagi, "di, ini baru jam setengah lima pagi, kan aku uda bilang
jam 8 atau 9 an, biasanya juga gitu kan?"
"Oh ini non Jessica yang minta..." katanya.
"Non..!? uda merrit kok dipanggil non sih?" kataku
"Hehehe... abis masih muda n cantik sih, emang salah saya panggil
ibu. Panggil non aja deh. Gini pak, ini ada complimentary dari kami,
morning drink, hm... non Jessicanya mana pak? Masi tidur ya? Ga apa
pak, nanti kita antar aja"katanya lagi.

"Hm.. Jess, kamu yang suruh dia dateng pagi pagi gini?" tanyaku ke
istriku, setelah melihat dia mengeliat membuka sebelah matanya. Tapi
kemudian ia tertidur kembali, mungkin karena masih mengantuk, aku
hanya mendengar gumamannya, seperti kata "ga.." mungkin memang dan
seharusnya memang istriku tidak mungkin memanggil room service
sepagi itu.

Karena sudah terlanjur bangun, aku langsung sikat gigi dan cuci
muka, tidak lama bell kamarpun berbunyi. "Room service..." suara Adi
dari balik pintu, kubukakan pintu, "ei di, pagi amat luh dateng, itu
istri gua, gua uda tanya, nggak pesenin luh dateng pagi pagi kali."
Kataku, "oh iya hehe.. inisiatif pak..." katanya yang langsung
kupotong, "inisiatif inisiatif, inisiatif pala luh, lain kali jangan
gitu donk, orang masi ngantuk banget, pake bilang istri gua lagi
yang nyuruh! Gimana sih?" kataku sambil mempersilahkan masuk.

"Hehe.. maaf banget pak, ini... kan bapak, pesan seminggu, dan
selama seminggu, bapak sangat jarang banget, menggunakan fasilitas
disini, padahal kan bapak pesan yang suite, dan bapak jarang
breakfast, dinner dan quick lunch di hotel ini, padahal uda termasuk
pembayaran bapak, bahkan menggunakan kolam renang, fitness center,
lap tennis apalagi jacuzzi yang deket swimming pool. Dan sampai
saat ini juga complimentary massage juga ga dipakai, makanya kami
mungkin akan mendiscount bapak, dimana seharusnya bapak menginap 7
hari 6 malam, menjadi 10 hari 9 malam..." katanya menjelaskan, "hm..
emang bisa begitu ya? Dulu dulu saya nginep disini ga pernah
gitu..." tanyaku untuk meyakinkan, "dan apa hubungannya ama morning
drink ini? Maksud gua dini hari drink..." kulihat jam baru pukul 5
lewat10 menitan.

"Hehe.. justru itu pak, ini sebagai awalnya, selain itu ini ada roti
panggang isi telur... silakan dinikmati dulu pak, dan ini juice kami
yang special buat bapak ama Jessica..." katanya. Saat kulihat roti
tersebut, perutku juga jadi lapar, maka kuputuskan untuk
menyantapnya saja. Selagi aku makan, Jessica keluar dari kamar tidur
kami, ia juga terlihat masi ngantuk, memakai baju tidurnya yang
berwarna biru langit mengkilap, membuatnya sangat sexy. "Ada apa
sih, ribut amat...."katanya. "Oh non Jess, uda bangun, sorry
ngebangunin..." kata Adi.

Aku masih menyantap makanan ku, ketika Jess sedang di kamar mandi,
mungkin cuci muka dan sikat gigi, atau mandi, aku tidak tahu.
Setelah selesai makan, dan ngobrol ngobrol dengan Adi, aku baru tau
ia lulusan universitas, dan sebenarnya ia memang suka kerja di
perhotelan, dan restaurant, dengan mengambil room service di hotel,
ia bisa menyangkup 2 pekerjaan yang disenanginya, restaurant dan
hotel. Ia punya cita cita mendirikan cafe sendiri. Tapi tentu saja
itu perlu waktu yang agak lama, dan ia senang bisa kerja di hotel
berbintang lima yang paling bergengsi ini, walau seperti kebanyakan
perusahaan, dimana perusahaan yang bagus dengan reputasi yang baik,
memiliki gaji yang kurang memadai tetapi akan punya referensi yang
sangat bagus.

Setelah Jessica selesai mandi, Adi menawarkan makanan tersebut, tapi
mungkin karena Jessica tidak terbiasa makan sepagi itu, ia
menolaknya, "buat nanti aja deh..." kata Jessica. "Hm... oh iya non,
eh Jess, mau minta tolong donk, hehe.. bisa ga ngajarin gimana copy
dvd dari handy cam itu ke dvd buat player..." kata Adi. "Hah? Buat
apa? Hm ... yah musti punya program nero, nih aku ada bawa laptop,
ya uda sini aku ajarin deh" katanya. "Oh iya ini aku juga uda siapin
dvd kosong.."kata Adi, "Jee buat apa, kita juga ada kalee... hehehe
lucu lucu aja yah..."kata Jessica.

Aku daritadi diam saja mendengarkan percakapan mereka, mungkin
karena aku kepagian bangun, mataku terasa sangat berat sekali, aku
benar benar mengantuk sekali....

****

Kubuka mataku perlahan... mataku berkunang kunang, samar samar
kulihat pergumulan seseorang dihadapanku, kulihat paha yang putih
mulus sedang dalam posisi doggie style dengan paha seseorang yang
penuh bulu kriting di paha dan berwarna hitam, kepalaku terasa
pusing, setahuku paha Adi tidak begitu berbulu lebat, kepalaku
terasa berat untuk dinaikkan, aku lihat di samping orang yang
memiliki paha mulus, berdiri seorang lagi yang menghalagiku untuk
melihat wajah sang pemilik paha mulus, malah yang kulihat adalah
sebongkah pantat hitam, yang sepertinya Adi, lalu di seberang Adi
terlihat seorang lagi yang hanya terlihat bagian kiri tangan dan
perutnya, tangan dan perutnya agak ceking.

Kupaksakan diriku untuk dapat mendengar dan melihat dengan jelas,
aku baru sadar sepenuhnya, Jessica istriku yang cantik, putih mulus,
muda dan belum pernah melahirkan ini sedang berteriak orgasme oleh
tiga pria pribumi ini, dan ketika aku dapat melihat lebih jelas
lagi, penis orang yang sedang menyetubuhi Jessica dengan gaya doggie
style memiliki penis yang abnormal, karena bagian kepala penisnya
sangat besar, sedangkan batangnya sendiri biasa saja, walaupun cukup
besar juga, jadi terasa agak aneh dan mengganjal sekali.

Aku penasaran dengan wajahnya, aku lihat, sepertinya aku pernah
melihatnya entah dimana, agak familiar... aku berusaha menggerakan
tubuhku, tapi ternyata aku diikat di kursi, "hegh..." gerakku, "oh
oh oh sudah bangun ya...." kata Adi, "eh pak hmm sorry mike yah nama
luh, ini istri luh mulai hari ini total menjadi perek kita, jadi
budak kita... dan dia uda setuju banget!!! Jadi luh musti setuju
juga" kata Adi.

"Hah? Apa – apaan ini? Siapa yang 2 orang itu? Jess, ada apa ini?"
kataku meminta penjelasan. "Sorry Mike, dia orang sekarang ... dia
orang ancam akan menyebarkan dvd kita Mike... aku .... ga mau kalau
dvd itu kesebar... aku...aku juga disuruh menandatangani surat
penyerahan diriku, surat kuasa dan lain lain... aku ...maaf Mike..."
kata Jessica. "Hm... itu bener, sekarang kita uda ngerti program
nero, laptop kamu ama handycam untuk sementara menjadi milik kita,
sebaiknya kamu juga kerja sama supaya semua orang senang, dan aku
yakin kamu senang juga kan istri kamu digituin, dan istri kamu juga
seneng kok digituin, dia aja uda orgasme berkali kali ama kontol
gue!!! Nanti gua kasi liat rekaman kita, hehee... dan ini berdua
temen gue, yang lagi *****in Jess ini, namanya Pak Slamet atau
panggil aja Pakonde, Pala Kontol Gede hehehehe..." kata Adi diikuti
tawa mereka bertiga, "kalo yang ceking, tongos dan jelek itu
Ardyantus, emang nama ama orang beda banget, namanya ga nolong
mukanya... hahhaaha" katanya. "Bangsat luh Di, emang gua jelek
banget apa?! Sialan luh!!!" kata orang ceking itu. Kulihat wajahnya,
memang jelek banget.

"Ah.... Hm.... ugh..."desah istriku, tampaknya istriku sangat
menikmati permainan pak Slamet yang kuperkirakan usianya sekitar 40
mendekati 50 tahun. Ia sendiri juga sangat menikmati jepitan vagina
istriku, "enak ga neng?! Uuhh gila cewe cakep masi muda gini.. uuhh
enakk banget.... emang lu bukan pertama kalinya suka pamer, emang
dari dulu lu uda suka pamer.... dari dulu gua uda pengen ng*****in
luh!!! Hahahah sekarang baru gua tau kalo luh emang sengaja waktu di
kawinan, diplerotin bajunya, gara gara luh gua dipecat dari kerjaan
gua, dan sekarang susah dapet kerjaan...."katanya, yang langsung
membuatku tersadar, dia adalah salah satu pengurus, kepala sekuriti
bagian pernikahan, yang wajahnya juga terfoto saat insiden
melorotnya baju pesta resepsi pengantin istriku. Dia dianggap
bertanggung jawab, karena selain kepala sekurity ia juga satu
satunya karyawan yang terlihat / terbukti berada di "TKP" kejadian.
Ia dianggap tidak mempringatkan kami, dan membiarkan kejadian
tersebut, dan wajah mupeng ingin lihatnya tertangkap kamera.
Sehingga ia di pecat, tapi kukira itu hanya rumor kalau ia di pecat,
karena kami tidak ambil pusing kejadian tersebut.

"Ah.... pak Slamet.... enak banget... pak...iya terusss... ah ...
mike.. sorry tapi lagi tanggung.. ini enak bagnet....ah,....
bodolah... ahh... AAAAAAAAAHhhhh..." istriku orgasme hebat, sampai
cairannya muncrat muncrat, padahal divaginanya sedang tertancap
penis besarnya pak Slamet, karena penisnya yang abnormal, membuat
lubang udara yang cukup luas pada bagian batang penisnya, sampai
tumpah tumpah, dan mengeluarkan suara seperti pret pret dari rongga
rongga vaginanya.

"Haha, busyet – busyet tadi waktu aku *****in aja ga sampai segitu
nafsunya nih perek, hehe.. dasar cewe murahan, tukang obral. Untung
luh ga sombong, jadi bisa kita apain aja. Nah ini nih suaminya
sombong, dasar babi, hehe... ga pantes luh *****in dia, per-ek-mata
kaya dia cocok buat kita hahaha perekmata." Ejek Adi, yang membuatku
sangat panas sekali, tapi kemudian yang lebih parah, "Hahaha...
konak dia! Istrinya kita katain perekmata cocok buat kita, burungnya
naik langsung... Hahaha...." sambung ejekannya. Aku yang
ditelanjangi tidak dapat menyembunyikan penisku yang
berdiri. "Sialan ... sialan... ngapain juga musti berdiri nih
penis..." umpatku dalam hati, tapi malah tambah tegang saja penisku.

Sementara itu pak Slamet masih terus mengenjot dan memutar mutar
penisnya itu, "Ah.... Ah... gua uda mau sampe.... terima peju
gua..... terima peju gue yang enak ini... Ahhhhhhhhhhhhhhhhhhh ...
shit!!! Enak banget nih memek" teriak pak Slamet berbarengan dengan
keluarnya spermanya didalam rahim istriku. Tampaknya istriku pun
mengalami orgasme kembali, tubuhnya kejang kejang, penuh dengan
keringat.

"Nah sekarang giliran gue..." kata Ardy, "gua udah tunggu tunggu
momen ini." Ia kemudian mengarahkan penisnya kearah vagina
istriku, "Hm... biar keringatan gini, tetep wangi yah... beda ama
cewe kampung... slurpp..." ia menjilati keringat di punggung
istriku, kemudian menuju ketiak istriku juga dijilati dan
diciumi. "Gila wangi banget... cakep banget sih luh!!! Hehehe...
emang enak yah di*****in ama mas Adi ama pak Slamet?" tanya Ardy,
istriku diam saja. "Ei jawab donk... kita kan mau tau yang disini,
kalau enak apa nggak, ayo donk di jawab..." lanjut si jelek Ardy
lagi, aku sendiri walau sudah tau istriku sangat keenakkan, tetap
ingin mendengar dari mulutnya langsung.

Kamera Handycam masih tetap dinyalakan, dengan colokan listrik,
bukan batere, karena baterenya sudah habis digunakan. Kamera itu
menyoroti wajah cantik Jessica, "e..enak.. enak banget...hmmhh"
jawabnya sambil memalingkan wajahnya dari kamera, jawaban itu
mendapatkan sorakkan kegirangan dari mereka. "Nah gitu donk,
sekarang kita tanya suaminya nyok!! Gimana? Kamu puas istri kamu di
*****in kita? Kamu suka? Ayo... biar bisa sama pinternya sama
istrinya kudu di jawab nih mas" tanya Ardy yang usianya sepantaran
istriku atau mungkin lebih muda.

"Ba... Baji.."
"E..ee.. jangan ngomong kasar donk, kalau kita ga apa ngomong kasar,
kamu kan terpelajar... jangan ngomong yang kasar kasar gitu donk"
potong Ardy lagi sambil menggeleng geleng kepalanya seperti seorang
guru mengajar anak kecil, "oh atau kita lihat aja deh barangnya uda
bisa jawab tuh hehehe" katanya sambil menunjuk penisku yang masih
tegang. Aku merasa malu dan dilecehkan. "Ayo... dijawab... jangan
malu malu gitu donk... uda gede kan?!" ledeknya lagi. Aku merasa
kesal tapi tidak dapat dihindarkan lagi, dan lagipula pikiran
mesumku lebih mendominasi diriku ini, "I..iya.. saya suka..." kataku
kemudian. "Hahahaha... gitu donk... suka apa?!!!! Coba diulangi
lebih jelas..." kata Ardy. "Saya suka.. saya suka istriku, Jessica
ML sama kalian... saya menikmatinya...." kataku pada akhirnya, dan
kembali disambut gembira oleh mereka.

Aku hanya dapat melihat mimik istriku, entah kecewa atau bangga, aku
tidak mengerti mimiknya, tapi satu yang kutahu pasti, ia
menikmatinya juga, sangat menikmatinya malah. "Oke oke... sekarang
gilarang aku yah... hehe.. oh iya mulai sekarang nih, Jess, kamu
panggil aku sayang yah, kita pacaran yah sekarang... tapi kalau
pacaran ama aku, aku harus coba dulu memek kamu, masi enak ga
dipake, ntar uda ga enak lagi, jangan Cuma menang cakepnya doank,
hehehe..." kata Ardy sambil memasukkan penisnya ke vagina istriku.

Bless tanpa kesulitan ia memasukkan batang penisnya yang berukuran
normal, dua tiga kali dia menggenjot, istriku mendesah "loh loh loh,
kok jebol yah memeknya? Ga enak nih, wah gara gara pak Slamet, nih
memek jadi doll banget... payah lah... wah masa musti nunggu pulih?
Ah... coba belakang aja yah? Boleh yah sayang?" kata Ardy yang
membuat kuping istriku panas juga dan takut karena belum pernah
mencoba dari belakang, "ja...jangan... tolong jangan....
pleaseee.... aku ga mau.." kata istriku.

"Hah? Ga mau ama siapa? Ama suami kamu? Aku ga tau kamu ngomong sama
siapa, kan aku uda bilang panggil aku sayang..." kata Ardy, "wah ga
ngerti ya? Kalo gitu hukumannya emang musti main belakang deh...
hehehe... siap siap ya... kalo ga siap sakit loh say... gua sih ga
peduli loh... abis memek loh itu udah jeboll sihhh" lanjutnya lagi,
sembari sekarang mengarahkan penisnya ke anus istriku. "Tu...
tunggu, aku mohon, toloong jangan sakiti istri saya, jangan disitu,
tolong..." kataku yang kemudian ditatap tajam oleh ketiga pasang
mata sangar, seolah mengatakan kalau tidak video rekaman kami akan
disebar-luaskan, "...eng..bag...bagaimana kalo setidaknya memakai
pelumas dulu?" lanjutku, aku bingung aku tidak ingin istriku
kesakitan tapi juga tidak ingin video rekaman kami disebarluaskan,
sedangkan aneh kalau aku menawarkan anusku, tentu saja aku tidak
mau, dan aku yakin mereka juga tidak mau.

"Pelumas? Hmmmm... oke tuh ide. Boleh... nah... say... kamu arahkan
lobang pantatmu ke suami mu, suruh dia jilatin sampai basah, biar
nanti kamu ga sakit... ayo cepat sayang..." perintah Ardy yang
kemudian langsung dituruti istriku. Istriku mengangkangkan kedua
pahanya dengan posisi doggy style mengarahkan lubang anusnya ke arah
wajahku, aku yang dalam keadaan terikat memajukan wajahku, sehingga
hidungku menempel pada anusnya, tapi sialnya lidahku yang sudah
kusiapkan, yang sudah terjulur siap menuju anusnya, malah tidak
tepat sasaran, yang kena malah vagina istriku, serasa kurang sial
lagi, sperma entah pak Slamet atau mas Adi langsung jatuh ke
lidahku, aku yang berusaha memuntahkannya tidak bisa, karena Jessica
terus menempelkan dan menggesek gesekkan vagina dan anusnya,
tampaknya ia masi ingat kalau oral seks yang kuberikan selalu dapat
membuatnya melayang, tapi yang tidak ia ketahui, (atau ia ketahui?),
kalau vaginanya telah penuh dengan sperma, sehingga mau tidak mau
aku yang kewalahan, aku yang memuntahkan sperma malah belepotan di
hidung dan wajahku, akhirnya, kupejamkan mata, kucoba sajalah. Dan
tentu saja rasanya tidak enak, rasanya perutku langsung mual, tapi
aku bertahan sekuat mungkin. Lama kelamaan akhirnya aku terbiasa,
dan istriku juga mendapatkan orgasmenya, dan barulah ia arahkan
dengan benar lubang anusnya ke mulut dan lidahku.

Setelah dirasa cukup basah oleh Ardy, ia menarik istriku, sambil
memicingkan matanya ke arahku, "iishh.. kamu homo ya?"
tanyanya, "what? Shit no way!!!" elakku kesal, "hehehe... bearti
kamu lebih gila lagi kalau bukan gay tapi nelen pejunya mereka
hahhaa... baguslah.. semoga terbiasa ya, mas!!! Hahaha"
ledeknya. "Oke oke, cuih..." diludahinya lubang dubur Jessica,
kemudian ia mengarahkan anus Jessica menuju penisnya. "Iya iya
iya... he eh... iya... ma...ma..Ma SOKKKKKK!!!! Ahh,... sempit
banget nih sayang" teriaknya setelah lolos memasukan penisnya.
Sementara istriku meringgis menahan sakit, dan geli.

Ardy diamkan beberapa saat, agar istriku terbiasa oleh
penisnya, "ayo terus....bagus Ar... gue suka itu" teriak Adi memberi
semangat sambil terus merekam, sedangkan pak Slamet Cuma cengangas
cengenges sambil merokok dan sedang minum kopi panas, menikmati
pertunjukan menyenangkan itu.

Ardy mulai mengeluarkan penisnya sampai tersisa kepalanya di dalam,
lalu langsung menghujamkan penisnya sampai menohok ke
dalam, "Ahhh....." desah istriku, entah kesakitan atau keenakkan. Ia
terus melakukan itu berulang ulang pertama tama perlahan lahan
kemudian makin lama makin cepat, "enak ga sayang?" ia bisikan ke
istriku, tampaknya istriku mulai dapat menikmati
permainannya, "iya..enak ...enak..sayang ooohh..." kata kata istriku
yang terakhir membuat hatiku mencelos, "sayang"? ia katakan sayang
pada dakocan ini? Hitam dengan gigi tongos, kurus kering, tirus,
jelek dengan potongan rambut yang berantakan, ia katakan sayang sama
seperti ketika kami berpacaran. Ia samakan aku, atau memang semua
pria baik tampan atau jelek sama saja dihadapannya? Tidak tampaknya
kata kata sayang yang dia ucapkan begitu murni, bahkan lebih
menunjukan sayang daripada saat ia ucapkan kepadaku dulu. Ia sungguh
suka sama pria kerempeng ini.

"Ah... rupanya kamu uda pernah main ya sebelumnya? Hahaha" tawa
Ardy. Entah itu Cuma kata kata saja sebagai alat untuk merangsang
pikirannya saja atau pertanyaan sebenarnya, karena aku belum pernah
main belakang dengan istriku, "hah? Kamu suka ya... main belakang
sama suami kamu? Ayo jawab yang jujur sayang...." tanya Ardy
lagi. "Ah... sayang... aku pernah main di anus.. sayang... aku
pernah....ah enak sekali... tapi bukan sama suami aku
ini...."katanya tidak memperdulikan lagi aku disini, "sama siapa
sayang?", "sama... sama penjaga sekolahku dulu waktu SMU...ah.. enak
bangetttt...... terus sayang teruss....." teriaknya.

Aku memalingkan wajahku, aku merasa dibohongi, ditipu, berarti tadi
sewaktu Ardy menyuruhnya menaruh pelumas... pantas saja ia langsung
menuruti, kukira ia takut rekamannya bocor tapi gila... aku menatap
meja makan, aku frustasi, aku terus menatap meja, sampai aku
menemukan sesuatu yang menarik di meja tersebut, kulihat sebuah
botol, yang biasa digunakan orang untuk bisa tidur cepat, rupanya
minumanku tadi di campur obat tersebut, tapi aku tidak perduli lagi.
Aku bingung, aku kesal. "Di, tolong lepasin tali gue, gua janji gua
ga akan kabur, gua akan cooperative ama lu orang, terserah, istri
gue mau lu orang apain, biar dia jadi budak seks lu orang, toh gua
juga terangsang sih sebenarnya" tiba tiba saja kata kata itu
meluncur dari mulutku, semua orang menjadi terhenti aktivitasnya dan
melihatku, termasuk istriku dengan wajah hornynya. "YESSSS!!! Wuhuiy
uda dapet ijin dari suaminya, uda tambah resmi aja deh, siip gua
lepasin gua lepasin, tapi lu musti pegang janji luh ya!!" kata Adi
kegirangan. "Pasti... gua janji..." kataku lemas.

Ardy semakin bersemangat menyodomi istriku, ia semakin gila saja, ia
meremas payudara istriku, kencang sekali, istriku sampai meringgis
kesakitan, tangan istriku memegang tangannya, tadinya kukira ia
hendak menepis tangan Ardy dari buah dadanya, ternyata ia malah
ikutan memeras buah dadanya sendiri, tampaknya ia menikmati disakiti
seperti itu, Ardy mengerahkan segala kebolehannya, ia memeras
payudara istriku sekarang bergantian, sehingga setiap payudara yang
dilepas tangannya akan berboyang ke kiri dan ke kananatau bergetar
ke atas ke bawah, ia terus melakukan hal itu, kiri kanan kiri kanan,
sangat melecehkan istriku sekali, tapi tampaknya Jesicca malah
menikmatinya.

Ardy mencabut penisnya, lubang pantat istriku tampak kemerahan, dan
bibir duburnya monyong keluar, ia membalikkan tubuh Jessica hingga
terlentang, ia masukkan penisnya kembali ke vagina istriku, ia
masukkan penisnya yang baru saja keluar dari lubang pembuangan
istriku, ke dalam vagina istriku, ia kocok kocokan penisnya disana,
sambil menekan dan meremas buah dada istriku dengan sangat gemas
sekali, sampai sepertinya ia hisap dan gigit gigit kecil, ia ludahi
payudara istriku kemudian dihisapnya kembali, berulang ulang ia
lakukan hal itu, istriku mendesah keenakkan, tampaknya istriku tidak
mampu membendung aliran orgasmenya, ia orgasme hebat, sampai sampai
sperma pak Slamet keluar dari vaginanya semua, membasahi penis Ardy.

Ardy mengeluarkan penisnya, ia arahkan ke mulut istriku, "isepin
sampe bersih nih, jijik gua, nih peju ada di penis gue, mending lu
telen aja deh apa aja yang menurut gue jijik. Mulut luh kan kayak
klosetnya gue, betul ga yang?" perintah Ardy, menyuruh isrtiku
membersihkan penisnya yang berlapiskan campuran kotoran istriku
sendiri, cairan orgasme istriku dan sperma pak
Slamet. "I..iya..hmm... enak... slurpp slurppp cuk
ck...slurpp..hmmmppphhh...." istriku menurutinya, meludahi penisnya
dan mengulumnya seakan itu hal paling enak yang dinikmatinya.

"Enak ga? Hehehe... ga usa dijawab kite kite juga dah pada tau
jawabannya kan? Hehe... gua belum selesai, ayo lanjut lagi,
sayang..." kata Ardy sambil memposisikan penisnya ke arah anus
Jessica, ia akan menyodomi istriku lagi, "Ahhhh.... mmmmhhh..."
istriku menahan perasaan sakit campur nikmatnya. "Iyakk... ahhh...
masukkk..." kembali Ardy berhasil memasukkan penisnya, dan kali ini
jauh lebih mudah, karena Jessica sudah siap sekali.

Paha Jessica dinaikkan sehingga lututnya mengenai dadanya, sedangkan
Ardy seperti orang push up, menggenjotnya dengan wajah yang penuh
kepuasaan, tampaknya ia tidak lama lagi akan mencapai orgasmenya, ia
terus mengeluarkan dan memasukkan penisnya seperti kuda liar, begitu
brutal, sampai istriku berteriak teriak, mas Adi dan pak Slamet
terus menyoraki kedua insan yang sedang di mabuk nafsu.

Tidak lama setelah itu, "AARRRGGGHHH.... gue keluar..... gue
keluarrrr....." teriak Ardy. Sedang istriku tampak kelelahan, Ardy
masi menancapkan penisnya di anus istriku, sambil menjilati buah
dada istriku, leher istriku, ia bersihkan peluh keringat istriku
yang menurutnya harum dan nikmat, mungkin ia sedikit fetish.

Ia mencabut penisnya setelah kurang lebih 5 menit, kami menunggu
selama itu tapi tidak bosan, karena ia mempertunjukan ciuman lidah,
ia permainkan lidah istriku, ludah Ardy menetes netes ke mulut
istriku, terasa sekali perbedaan si wajah buruk rupa dan orang yang
sangat cantik, berciuman sangat mesra, aku sendiri tanpa sadar
sedang mengocok penisku, "Aha... terus kocok, nanti keluarin di muka
istri kamu ya" kata Adi, mereka memperlakukanku seolah aku adalah
figuran di film porno. Tapi toh tetap kulakukan, aku memuntahkan
spermaku ke wajah istriku, mengenai pipi dan bibirnya.

Setelah kukeluarkan spermaku semua, dari lubang dubur istriku, ia
mengeluarkan sperma Ardy, yang langsung ditampung oleh Ardy dengan
penisnya, sperma yang berwarna putih kecoklatan itu tidak disisakan
setetes pun jatuh ke kasur, semua jatuh ke penis Ardy, yang langsung
di sosor ke mulut istriku, istriku mengulumnya tanpa rasa jijik,
hanya saja katanya rasanya sedikit pahit. Tapi habis dan bersih tak
bersisa sperma di penis Ardy.

Setelah menandatangani surat kontrak, dan lain lain mereka akhirnya
menjelaskan kepadaku, compliment 10 hari itu adalah bohong, dan itu
Cuma agar aku menginap lebih lama disini, istriku sudah
memperpanjang check in nya, tadinya mereka berencana diperpanjang 20
hari, tetapi hari ke 12 akan dipakai orang lain, maka hanya sampai
10 hari saja. Setelah mereka menjelaskan, mereka pergi
meninggalkanku dan istriku, dan mereka ingin besok kita siap
mengikuti permainan mereka selanjutnya.

Mereka juga meninggalkan rekaman berisi pergumulan istriku dengan
Adi, permainan dengan Adi tidak ada yang istimewa, hanya percintaan
biasa, tapi istriku tampak sangat menikmatinya juga, benar benar
edan, tampaknya istriku lebih maniak seks dibandingkan denganku,
tadinya aku mau minta maaf, karena gara garaku, ia harus melayani
mereka, tetapi tampaknya itu semua tidak perlu lagi, karena selain
istriku terlihat menikmati, ia juga ternyata sudah pernah bermain
dengan penjaga sekolah sewaktu dia SMU, dan itu tak pernah
diceritakannya kepadaku, dan yang lebih parah saat ini ketika aku
menonton pergumulan ia dengan Adi, ia sedang bermasturbasi sampai
orgasme. Ia tampaknya sangat menyukai di gang rape oleh orang orang
rendahan yang berbeda kelas.

3 comments: